Jumat, 10 Februari 2012

Bagaimana Jika Saya Tidak Menerima atau Menolak Tuhan?

T:  "Bagaimana jika aku tidak menerima Tuhan, tapi juga tidak menolakNya? Jika aku tidak mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, tapi aku juga tidak menegaskan bahwa Dia sungguh ada?"

J kita:  Mungkin semua itu tergantung pada apa yang sungguh saudara tahu dalam hatimu. Dengan kata lain, saudara dapat suatu hari berdiri di hadapan Tuhan dan berkata "Tapi, aku tidak pernah tahu bahwa Engkau ada!" Dan Dia mungkin menjawab "Ya, saudara tahu". Aku tahu pasti, saudara mengetahuinya. Jauh di dalam hatimu saudara tahu bahwa aku sungguh ada. Aku tahu karena Aku memberikan pengenalan itu di sana. Saudara tidak pernah sungguh-sungguh ingin mengenalKu, jadi saudara menolak untuk mengakui bahwa Aku ada. Saudara tidak mempedulikan informasi yang Aku berikan, tapi, pengenalan itu tetaplah di sana".


Lebih dari mungkin, kita bertanggung jawab untuk apa yang kita tahu. Pertanyaan sebenarnya adalah apa yang sungguh-sungguh kita tahu? Seberapa banyak pengenalan yang Tuhan tempatkan di hati kita? Apapun itu, kita terpanggil untuk meresponinya. Dan mungkin banyak hal yang tidak kita akui. Alkitab mengatakan bahwa hati manusia itu licik melebihi segalanya (Yeremia 17:9)
Mungkin pertanyaan-pertanyaanmu adalah "Bagaimana jika aku hanya sekedar tahu dan tidak pernah membuat suatu keputusan? Baiklah, jika saudara benar-benar tidak punya informasi lebih lanjut. Namun, Alkitab mengatakan bahwa keberadaan Tuhan dibuktikan oleh kerumitan dunia di sekitar kita, dan karenanya kita bertanggungjawab untuk tahu bahwa Dia ada. Karena penciptaan dunia merupakan kemampuan Tuhan yang tidak bisa kita lihat--kekuatan kekalNya dan ketuhananNya--telah terlihat jelas, dimengerti dari apa yang telah diciptakan, sehingga manusia tidak memiliki perkecualian apapun (Roma 1:20)
Dan bagaimana jika melampaui hal-hal itu? Banyak orang mengatakan bahwa mereka merasakan, selama bertahun-tahun, ketuka Tuhan di hati mereka, mencoba untuk masuk. Jika hal itu benar untuk seseorang, (dan Tuhan tahu), dan, tidak membuat keputusan akan menjadi sama dengan menolakNya. Jika Dia ingin masuk ke dalam hati kita, tidak aka nada zona abu-abu.
Kemudian, ada juga pribadi Yesus Kristus. Orang ini diklaim sebagai Tuhan, membuat banyak mujizat untuk membuktikan ketuhananNya, mati untuk dosa-dosa kita, bangkit dari kematian, dan meninggalkan sebuah cerita utnuk kita ketahui. Dia adalah orang yang sama yang berkata "Siapa tidak bersama Aku melawan Aku" Dengan Yesus, saudara tidak dapat hanya sekedar tahu". Dia tidak memberi pilihan itu.
Hal lain untuk dipikirkan: Hal paling utama dalam hidup ini mungkin adalah membuat sebuah keputusan untuk menerima atau menolak Tuhan. Jika ini masalahnya, mungkin mustahil untuk tidak membuat suatu keputusan. Dengan kata lain, jika kita tidak berkata "ya" kepada Tuhan, kita telah berkata "tidak".

Sumber>>>>
http://mahasiswakeren.com/artikel/701bagaimana.html

Apakah Hubungan Seks Diluar Nikah itu Salah? Apakah Kita Perlu Hidup dalam Penyangkalan Diri?

T:  "Apakah hubungan seks diluar nikah itu salah? Mengapa setiap hal yang menarik dan menyenangkan selalu salah menurut orang Kristen? Mengapa Allah yang kasih harus mengatakan bahwa saudara tidak boleh melakukan hal-hal yang menyenangkan?"
J kita:  Pikirkan ini, apakah menyetir mobil sesuatu yang salah? Tidak. Apakah menyetir mobil bagi seorang anak berusia 13 tahun adalah sesuatu yang salah? Ya. Bagi seorang anak usia 13 tahun itu hal yang menarik dan menyenangkan, tetapi itu sangat berisiko bagi hidupnya dan orang lain.

Apakah hubungan seks yang menyenangkan antara suami dan istri adalah salah? Tidak. Apakah hubungan seks itu salah jika dilakukan dengan pasangan orang lain? Ya. Mungkin itu menarik dan menyenangkan tetapi seringkali hal hal itu menimbulkan penderitaan yang dalam bagi pasangan itu dan anaknya nanti.
Kita senang untuk menentukan apa yang benar dan salah menurut apa yang kita inginkan. Itulah sifat manusia. Jika kita ingin berhubungan seks dengan seseorang, kita ingin membuat standar kita sendiri. Seringkali standar kita adalah jika mereka tidak menikah itu boleh. Tetapi bagaimana akibatnya jika orang lain memiliki resiko suatu penyakit yang menular? Itu akan menjadi tidak jelas. Bagaimana akibatnya jika orang itu hamil dan menghadapi keputusan yang sulit untuk melakukan aborsi? Tidak jelas juga. Bagaimana jika orang tersebut adalah saudaranya? Bagaimana jika orang tersebut memiliki jenis kelamin yang sama? Bagaimana jika seks itu untuk di bayar? Bagaimana jika seks tersebut untuk pornografi? Bagaimana jika itu melibatkan anak-anak?
Apa yang menarik dan menyenangkan bagi seseorang mungkin akan di pandang salah oleh orang lain. Betul? Dimanakah orang dapat menentukan hal yang baik dan salah?
Allah yang maha kasih telah memberikan hikmatNya dalam hidup kita. Dia mengatakan bahwa dosa adalah sesuatu yang menyenangkan untuk sesaat. Mungkin tidak ada dosa yang tidak menyenangkan untuk sesaat. Tetapi kesenangan tidak dapat menjadi standar kita satu-satunya untuk membuat suatu keputusan. Bayangkan bagaimana kesenangan itu akan benar-benar menjadi pukulan bagi seorang adik laki-laki atau perempuan pada saat itu. Hal-hal yang menyenangkan hanya untuk sesaat saja, tetapi kita harus dapat menahannya karena kesenangan itu bukanlah penuntun kita.
Tuhan ingin agar kita dapat menjaga diri dari masalah-masalah yang mengerikan yang dapat membuat kita membuat suatu keputusan yang bodoh. Sesungguhnya Dia mengasihi kita dan ingin melindungi kita dari keputusan dan kebiasaan yang akan merusak hidup kita atau bahkan hidup orang lain.
Mengapa Tuhan (yang menciptakan seks) membatasi hubungan seks dalam pernikahan? Apakah itu untuk merusak kesenangan orang atau mungkin untuk melindungi suatu pasangan untuk menikmati tingkat keintiman yang paling dalam, yang hanya disediakan untuk satu sama lain? Ketika Tuhan memberikan kita tuntunan, Dia memiliki alasan yang tulus dan didorong oleh kasihNya bagi kita.
Biasanya orang hanya melakukan hubungan seks untuk kegembiraan dan kesenangan sesaat, tetapi bagaimana akibatnya jika ada sesuatu yang lebih berharga dibanding kesenangan sesaat tersebut? Bukankah saudara juga akan memperlakukan orang lain dengan nilai yang lebih besar, seperti martabat, kebanggan diri? Barangkali Tuhan berpikir bahwa hubungan dapat manjadi lebih intim, aman dan lebih kuat jika mereka membangunnya pada sesuatu yang lebih penting dibanding hubungan seksual. Apapun yang menjadi alasan Tuhan, hikmatNya melebihi kita dan Dia dapat dipercayai. Dan kita akan dapat melihat nilai-nilai dalam mengikut Dia.


Sumber>>>

 http://mahasiswakeren.com/artikel/720apakah.html

Memuaskan Kehausan Sejati Saudara

Memuaskan kehausan sejati kita: Bagaimana pesta minuman keras dapat menjadi pengganti bagi hubungan yang dekat dan memuaskan dengan orang lain
Oleh: Judy Clark\
 
Suatu musim panas di Colorado, saya dan seorang teman bertemu beberapa pelarian dari New Mexico. Mereka berhenti dari sekolah mereka di SMA dan bertualang dengan menari dan perlombaan minum minuman keras demi mendapatkan uang. Pada awalnya, saudara mungkin berpikir bahwa mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Namun setelah saya menghabiskan 2 jam bersama Gabriel, Sean, Matt, dan Peter, saya menyadari bahwa mereka hidup dengan sesuatu yang dirindukan banyak orang lain.
Orang-orang ini tidak punya banyak uang, tanpa tempat tinggal, pakaian yang usang, dan sering kekurangan makanan. Saya dan teman saya mengundang mereka untuk makan malam. Kami duduk bersama pada suatu kedai makan dan melihat mereka melahap banyak hamburger, burritos, dan susu kocok, serta mendengar cerita mereka. Saya baru sadar bahwa mereka adalah suatu komunitas.

Hubungan yang nyata dan sehat: sesuatu yang telah lama kita rindukan.

Mereka saling melihat. Jika salah seorang mendapatkan sesuatu, dia membagikannya. Salah satu dari mereka hanya makan separuh makanannya karena dia ingin membagi sisanya dengan seorang sahabatnya yang tidak bersama kami. Mereka berbicara tentang saling mengasihi satu sama lain. Mereka adalah orang tua satu sama lain. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Mereka berbicara tentang ketakutan, rindu kepada ibu mereka, merasa tertolak, lapar. Mereka hidup disuatu jalan hidup yang tidak akan pernah saya pilih--tetapi mereka mempunyai sesuatu dimana banyak orang yang berpendidikan dan "mapan" tidak memiliki.
Mereka saling memiliki. Mereka mempunyai hubungan yang sejati. Mereka terhubung erat satu sama lain.
Itulah yang kita semua inginkan. Kita menginginkan kehidupan yang sejati. Kita tidak ingin menjadi seperti hamster yang berlari sepanjang labirin dan memutar rodanya sepanjang hari--sendirian dan tidak pernah pergi kemanapun. Kita ingin berhubungan. Kita ingin berteman. Kita ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas yang saling mempedulikan satu sama lain.
Teman saya, Rebecca, baru saja lulus dari universitas Vanderbilt. Ketika dia memasuki "dunia yang sesungguhnya", dia berkata kepada saya, "saya hanya ingin menjadi anggota kelompok Amish. Pendapatnya tidak ada hubungannya dengan agama dan segala sesuatu yang dilakukan oleh komunitasnya. Mereka mempunyai tetangga dan keluarga. Mereka saling menolong untuk membangun lumbung. Mereka datang menolong ketika salah seorang diantaranya berada dalam bahaya. Hidup itu sederhana dan pelan, dan saudara dapat menghadapi apapun dalam jangkauan saudara karena saudara tahu bahwa saudara tidak sendirian. Terdengar menyenangkan bukan?
Menurut saya, kita rindu akan sebuah hubungan yang langgeng, penuh oleh rasa percaya, dan sukacita. Banyak diantara kita yang tumbuh di lingkungan rumah dimana ayah kita bekerja lembur di kantor untuk mendapatkan promosi demi promosi sehingga mereka dapat memebeli jam tangan Rolex atau Beemer. Ibu mempunyai gelar kesarjanaan dan keluarga menginginkan pendapatan tambahan sehingga ibu harus bekerja. Orang tua kita hidup bersama namun dengan kondisi yang demikian. Hubungan menjadi retak dan tingkat perceraian naik secara tajam.

Bir: Sebuah pengganti yang terkenal untuk hubungan yang sehat.

Ketika Grey Anatomy, Sex in the City atau Friends diputar lagi, kita senang untuk melihat orang yang muncul saling berhubungan. Dan dengan putus asa kita menginginkannya terjadi dengan diri kita. Kita menginginkan dan membutuhkan hubungan yang baik, tetapi terlihat jelas, walaupun hal itu sangat menyakitkan dan beresiko.
Jadi, apa yang kita lakukan? Siapa yang dapat membuat saya merasa baik? Siapa yang dapat saya andalkan? Siapa yang dapat menolong saya keluar dari sebuah dunia yang dipenuhi keterpisahan--walaupun hanya untuk sementara?
Jika saudara seperti banyak mahasiswa lainnya, duduk menikmati sebotol Jack Daniel. Minuman keras membuat saudara merasa tenang dan baik-baik saja. Selalu dapat terjangkau dan selalu ada ketika saudara memerlukannya. Tidak peduli seperti apa saudara. Itu akan membuat saudara merasa senang, menarik, dan diterima. Dan mengurangi ketidaknyamanan yang kadang-kadang terjadi saat bergaul dengan orang lain.
"Kita ingin berhubungan. Kita ingin berteman. Kita ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas yang saling mempedulikan satu sama lain."
Hubungan ini akan terjadi untuk sementara, tapi saudara akan menyadarinya. Semua itu hanya sementara.
Mungkin bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi saudara bahwa kita mencari cinta disemua tempat yang salah. Penulis dan psikolog, Dr. Henry Cloud menulis, "kita membutuhkan cinta di awal tahun kehidupan kita. Jika kita tidak mendapatkan cinta ini, kita merindukannya di sepanjang sisa hidup kita. Kerinduan akan cinta ini begitu kuat sehingga kita tidak menemukannya didalam hubungan dengan orang lain. Kita mencarinya dalam hal lain, seperti makanan, pekerjaan, hubungan seks, atau menghamburkan uang...mabuk atau bekerja keras secara berlebihan."1
Shelly, seorang mahasiswi di Universitas Alabama, mengatakan, "saya dapat menghabiskan setiap malam saya di bar untuk nongkrong dengan teman-teman saya sambil mabuk, namun ketika saya bertemu mereka esoknya di kampus, kami tidak saling menyapa." Shelly mempunyai hubungan namun dia menggambarkannya sebagai sesuatu yang sebenarnya adalah palsu. Kebutuhan sejatinya untuk berhubungan dengan orang lain tidak terpenuhi.
Di sisi lain, Ben, pergi keluar untuk minum dengan teman-temannya dan alkohol mempengaruhi mereka untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Persahabatan mereka terlihat mendalam. Tetapi Ben mengatakan, "Saya ingin belajar bagaimana bersikap jujur tanpa dipengaruhi alkohol."

Kehausan sejati kita adalah hubungan yang sehat.

Dr. Cloud melanjutkan, "Biasanya orang terikat pada satu hal yang khusus, seperti alkohol, kokain, pekerjaan, judi, hubungan yang rusak, keagamaan, prestasi, dan materi. Akan tetapi hal dan tindakan tersebut tidak pernah dapat memuaskan karena itu tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Kita tidak benar-benar membutuhkan alkohol, narkoba, atau seks. Kita dapat hidup dengan baik tanpa hal-hal tersebut. Bagaimanapun juga, kita sebenarnya membutuhkan hubungan, dan kita tidak dapat hidup dengan baik tanpanya." (kesimpulan saya)2
Ketika saya bertanya kepada mahasiswa mengapa mereka minum alkohol, kebanyakan menjawab, "minum alkohol itu menyenangkan." Sepertinya, itu adalah jawaban yang dapat diterima. Tetapi dibalik kesenangan itu, pernahkah saudara bertanya mengapa saudara mulai minum? Mungkin itu merupakan sebuah pelarian sementara dari stress, ketidakpastian akan masa depan, atau tekanan dalam kondisi sosial.
Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara tidak perlu mencari rasa aman lagi, apakah itu alkohol, seks, atau makanan. Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara mungkin akan sedikit mencoba untuk memenuhi kekosongan dengan sesuatu hal yang lain. Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, beberapa kebutuhan yang mendasar akan terpenuhi.
"Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara tidak perlu mencari rasa aman lagi, apakah itu alkohol, seks, atau makanan."
Dr. Cloud melanjutkan, "keterikatan merupakan salah satu ide yang paling mendasar dalam hidup dan alam semesta. Hal itu merupakan sebuah suatu kebutuhan manusia yang paling mendasar. Tuhan menciptakan kita dengan suatu kerinduan akan hubungan--untuk hubungan dengan Dia atau dengan sesama kita. Pada intinya kita mahkluk yang saling berhubungan. Tanpa sebuah hubngan yang solid dan terikat, jiwa manusia akan terperosok kepada masalah-masalah psikologis dan emosional. Jiwa tidak akan tenang tanpa terhubung dengan yang lain."3
Bagaimana kita belajar untuk memiliki hubungan yang terikat? Mulailah untuk jujur dengan dirimu sendiri. Dapatkah hal itu menjadi alasan bagi saudara untuk mabuk, makan berlebihan atau terlalu sedikit, penyalahgunaan seks, atau memaksa diri saudara kepada kesempurnaan adalah karena saudara sesungguhnya membutuhkan sebuah hubungan?
Jika demikian, banyak buku-buku yang baik tentang bagaimana membangun hubungan dengan orang lain (salah satunya ditulis oleh Dr. Cloud). Namun ada suatu hubungan kunci yang menawarkan sebuah dasar yang asli untuk memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain. Dr. Cloud berbicara tentang kebutuhan kita yang terhubung dalam sebuah cara yang signifikan baik kepada orang lain maupun kepada Tuhan. Seorang filsuf dan fisikawan Perancis, Blaise Pascal, mengatakan dalam hati setiap orang ada sebuah kekosongan yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak dapat diisi oleh hal-hal lainnya.
Dapatkah kita memiliki sebuah hubungan denga Tuhan yang menciptakan kita? Dapatkah kita berhubungan dengan Tuhan? Saya tidak berbicara tentang Tuhan yang memberikan saudara sebuah daftar perintah dan larangan atau seorang polisi besar di angkasa yang siap untuk menghukum saudara dalam pelanggaran terkecil sekalipun. Tetapi saya sedang membicarakan tentang sebuah hubungan dengan Tuhan yang berdasarkan pada kasih dan kebenaran dan kebebasan dan kedamaian hati.

Memulai sebuah hubungan dengan Tuhan

Tuhan menciptakan saudara agar saudara dapat mengenal Dia. Dalam inti keberadaan saudara, saudara pasti mengetahuinya. Tetapi kita semua memiliki roh pemberontak yang mengatakan kepada Tuhan, "Hei, lakukanlah dengan caraMu dan aku dengan caraku sendiri. Jangan ganggu aku, kecuali aku membutuhkanMu." Beberapa dari kita mengatakan hal itu. Yang lain hanya memikirkannya, jika kita dapat menghindar dari seluruh "hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan", semuanya akan berlalu. Bahkan beberapa dari kita mengatakan bahwa kita menginginkan sebuah hubungan dengan Tuhan, tetapi kita ingin datang kepadaNya dengan cara kita sendiri--mencoba dengan cara kita. Kebenaran itu adalah ketika tidak ada satupun dari kita yang mampu mendapatkan sebuah hubungan dengan Tuhan yang sempurna.
"Sama seperti saat kita mabuk atau makan berlebihan memiliki banyak konsekuensi, begitu juga dengan memberontak atau mengabaikan Tuhan."
Sama seperti saat kita mabuk atau makan berlebihan memiliki banyak konsekuensi, begitu juga dengan memberontak atau mengabaikan Tuhan. Bahkan saudara mungkin tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensi tersebut tapi akibatnya hal itu akan menimpa saudara sendiri. Tuhan telah mengatakan bahwa konsekuensinya adalah terpisah selamanya dari Dia. Saudara berada di kampus saat ini, dengan harapan untuk dapat bersenang-senang dan mempersiapkan masa depan saudara. Sulit untuk memikirkan hal-hal tentang kekekalan...tetapi saudara tidak pernah tahu. Teman saya, Steve, berusia 20 tahun mungkin telah meninggal ketika saudara membaca ini. Dia meninggal karena mengidap HIV melalui darah yang terinfeksi. Dia tidak memiliki pilihan selain berurusan dengan kekekalan sekarang.
Tuhan telah memberikan sebuah jalan bagi kita hingga kita dapat mengenalNya di dunia dan untuk selama-lamanya. Dia melakukannya dengan mengutus Yesus kedalam dunia untuk hidup seperti kita dan hidup dengan sempurna. Tetapi bukan itu saja. Kita seharusnya dihukum karena dosa-dosa kita, tetapi Yesus bersedia mengorbankan diriNya di kayu salib bagi kita. Yang harus kita lakukan untuk dapat mengenalNya adalah meletakkan kepercayaan kita bahwa Yesus telah membayar sampah didalam hidup kita yang memisahkan kita dari Tuhan yang sempurna. Saudara dapat menerimanya dan meletakkan iman saudara didalam Dia atau saudara dapat memilih untuk menolak Dia. Semua keputusan ada di tangan saudara.
Ketika saya berdoa kepada Tuhan, saya berkata kepadaNya bahwa saya ingin mengenal Dia dan meletakkan kepercayaan saya didalam kematian Yesus bagi saya. Saya memulai suatu hubungan dengan Dia. Sekarang saya dapat berhubungan dengan Tuhan semesta alam. Ketika hubungan itu semakin erat, hidup saya berbeda. Saya tidak perlu berputar-putar mencoba mencari hal-hal lainnya untuk memuaskan saya. -apakah itu uang, minuman keras, atau bekerja sangat keras. Ketika saya meninggalkanNya, saya berputar-putar untuk mencoba mencari sesuatu yang hilang itu.
Saya tidak tahu apa yang saudara hadapi. Saya tidak tahu bagaimana tanda-tanda tersebut terjadi dalam hidup saudara. Mungkin itu semua adalah minuman keras, seks, atau narkoba. Atau berjuang mati-matian. Atau menyiksa diri saudara untuk mendapat nilai A sehingga saudara dapat merasa baik-baik saja. Semua itu merupakan hal-hal pengganti bagi kebutuhan sejati kita akan hubungan dengan orang lain dan Tuhan. Kita semua meiliki kekosongan itu didalam diri kita yang hanya dapat dipenuhi melalui hubungan dengan Tuhan.
Mungkin saudara rindu untuk memulai hubungan dengan Tuhan saat ini juga. Yang harus saudara lakukan hanyalah berkata kepada Dia. Dia tahu kerinduan hati saudara dan lebih memperhatikannya dibanding dengan kata-kata saudara. Saudara dapat mengatakannya seperti ini:
"Tuhan, saya ingin mengenalMu. Saya ingin dapat berhubungan dengan Engkau. Saya telah mencoba banyak hal untuk memenuhi kebutuhanku akan Engkau, dan semuanya tidak berhasil. Ampuni saya karena saya tidak lebih dahulu datang kepadaMu. Terima kasih karena Engkau mengasihiku dan menginginkan agar saya mengenalMu. Saya mengaku bahwa Engkau membuat hubungan ini menjadi mungkin melalui kematian Yesus. Saya percaya kepadaMu. Amin."
Saudara akan menemukan bahwa hubungan dengan Tuhan akan memenuhi dan memuaskan saudara. Ketika saudara berhubungan dengan Tuhan saudara memiliki dasar untuk membangun hubungan yang berarti, kekal, dan berharga. Memuaskan kehausan sejati saudara.

Sumber>>>>

http://mahasiswakeren.com/artikel/507saudara.html

Saya telah mengundang Yesus masuk ke dalam hidup saya ... (informasi berikutnya)
Saya masih ragu-ragu, tolong jelaskan lebih lanjut...
Saya ada pertanyaan...


Jumat, 30 Desember 2011

Rumah Toraja: Inspirasi Desain Interior 2012

Rabu, 21 Desember 2011

Para Ibu dalam Alkitab

Artikel ini adalah pelajaran perbandingan antara dua orang ibu dalam Alkitab. Masing-masing memunyai anak untuk dibesarkan, tetapi pengajaran dan moral yang ajarkan kepada anak-anak mereka mempengaruhi menjadi orang Kristen yang bagaimana mereka nanti. Karena itu sangatlah penting untuk bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kita.
Para ibu di dalam Alkitab memberi kita pelajaran yang berharga. Setiap peristiwa yang tercatat sangatlah penting. Mereka membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Jika kita bisa melihat ibu mana yang berbuat baik dan benar di mata Tuhan dan ibu mana yang tidak, maka kita akan tahu apa yang seharusnya kita perbuat dan apa yang seharusnya tidak kita perbuat. Penyelidikan ini memberi kita sekilas pandangan bagaimana dua orang ibu bertindak.
Ibu yang menjadikan anaknya penyembah berhala: Ibu Mikha
Ibu ini hanya dikenal sebagai ibu Mikha. Mikha dan ibunya adalah orang Israel dari suku Efraim. Mereka hidup pada masa bangsa Israel masih berupa negara muda di Tanah Perjanjian.
Tanpa adanya pemimpin seperti Musa, Yosua, atau tua-tua, yang sudah hidup sejak zaman Keluaran, yang memimpin mereka, "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri" (Hakim-hakim 17:6).
Kejadiannya dimulai dengan Mikha mengakui sudah mencuri sejumlah besar uang perak dari ibunya. Ia mengakuinya setelah mendengar ibunya mengutuki si pencuri. Ibu Mikha memaafkan dan memohon supaya Tuhan memberkati anaknya. Kemudian ia berkata kepada Mikha, "Aku mau menguduskan uang itu bagi Tuhan, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan" (Hakim-hakim 17:3).
Kita mendapati ibu Mikha memberikan sebagian uang perak itu kepada tukang perak untuk melaksanakan maksudnya. Setelah selesai, berhala itu diletakkan di dalam rumah Mikha. Mikha sangat terpesona.
Mikha membangun sebuah kuil. Ia membuat efod, yaitu pakaian imam. Ia bahkan menambahkan beberapa berhala rumah. Ia menahbiskan salah seorang anaknya laki-laki menjadi imamnya (Hakim-hakim 17:5).
Ketika seorang Lewi datang ke kotanya, Mikha cepat-cepat menjadikan dia imam di rumahnya. Ia sangat gembira. Katanya, "Sekarang tahulah aku, bahwa Tuhan akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku" (Hakim-hakim 17:13).
Di permukaan, ibu Mikha melakukan hal yang baik. Ia membuat anaknya berpikir tentang Tuhan dan menjadikannya penyembah yang taat. Sayangnya, ia menjadikannya penyembah berhala.
Ibu ini tidak memiliki pemahaman dasar tentang satu Tuhan yang benar. Walaupun ia tahu bahwa berkat datang dari Tuhan (Hakim-hakim 17:2b), ia tidak tahu bahwa Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan berhala (Keluaran 20:3,23; Imamat 19:4; 26:1; Ulangan 29:16-26). Ia mencampuradukkan keduanya. Anaknya juga mencampur aduk.
Sangat mudah memang untuk mencampur aduk, dan sekarang ini malah jauh lebih mudah daripada dulu. Kalimat "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri" tampaknya cukup menjelaskan kondisi di zaman kita hidup sekarang ini.
Tetapi meski tak ada seorang pun di antara kita yang benar-benar membayar seorang pemahat untuk membuatkan satu atau dua berhala untuk anak-anak kita, kita harus menyadari bahwa kalau kita tidak memahami pengajaran Alkitab, kita akan mencampuradukkannya dengan pengajaran dunia.
Tindakan-tindakan kita membawa akibat yang fatal dan kekal bagi mereka. Kita hanya perlu mengingat apa yang terjadi pada Mikha. Ia menjadi seorang penyembah berhala, dan ia menjadikan anaknya seorang penyembah berhala. Tetapi kebobrokan ini tidak berakhir sampai di situ.
Bani Dan, suku tetangga, menemukan benda pahatan yang disembah Mikha dan sangat menginginkannya. Mereka mencurinya dan menyakinkan imamnya untuk bergabung dengan mereka (Hakim-hakim 18:1-31).
Sebagai akibatnya, satu suku bangsa menjadi bobrok dan berdosa terhadap Tuhan. Bahkan kelak akan tiba masanya dalam sejarah Israel ketika orang-orang dari suku lain mengunjungi tempat ini untuk menyembah berhala (l Raja-raja 12:28-30).
Ibu yang menginginkan anak-anaknya menjadi orang-orang terdekat Yesus Ibu Yakobus dan Yohanes
Ibu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, hidup di zaman Yesus. Anak-anaknya satu generasi dengan Tuhan kita. Ketiga-tiganya menjadi pengikut Yesus. Malahan, ibu ini adalah salah satu dari perempuan-perempuan yang mencukupi keperluan Tuhan kita. Namanya adalah Salome (Matius 27:56; Markus 15:40-41; Markus 16:1).
Injil Tuhan tentang kerajaan surga sangat mengesankan ibu ini, begitu pula anak-anaknya. Seperti hampir semua orang lain, ia tengah menunggu-nunggu kedatangan Mesias, raja penyelamat, untuk membebaskan tanah yang sekarang disebut Palestina dari kekuasaan Romawi.
Walaupun latar belakang Yesus hanyalah seorang tukang kayu, ibu anak-anak Zebedeus ini menaruh percaya pada Dia. Suatu hari di tahun ketiga penginjilan-Nya, Yesus berjalan ke Yerusalem bersama para pengikut-Nya dan ketika berada di sana, untuk kedua kalinya Ia menubuatkan kematian-Nya (Markus 10:32-34).
Menangkap kesempatan, bersama anak-anaknya ibu ini mendekati Tuhan. Ia berlutut di hadapan Yesus dan mengajukan permohonan khusus. Katanya, "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu" (Matius 20:21).
Ibu anak-anak Zebedeus ini punya iman yang besar. Walaupun Yesus sama sekali tidak memperlihatkan kerajaan yang Ia bicarakan, ia sudah melihat cukup banyak mukjizat untuk mengetahui bahwa tak ada yang mustahil bagi Yesus. Segala yang dikatakan Sang Guru pastilah benar.
Ketika Yesus memulai pemerintahan-Nya, ibu ini tahu bahwa ia menginginkan anak-anaknya menjadi orang-orang terdekat-Nya. Sebagaimana Yakobus dan Yohanes sendiri, ia ingin agar mereka duduk tepat di sebelah Sang Raja sehingga mereka bisa "mendapat bagian dalam kemuliaan dan kekuasaan Kristus dan menjadi yang terbesar dalam kerajaan Tuhan."
Tuhan kita mengingatkan mereka pada kenyataan. Lagipula, kerajaan Yesus bukanlah seperti kerajaan dunia. Ia bertanya kepada ibu dan anak, apakah mereka tahu apa yang mereka minta. Dan Ia membetulkan gagasan salah kaprah mereka tentang kebesaran (Matius 20:22-28; Markus 10:38-45).
Meskipun demikian, ibu anak-anak Zebedeus ini tidak tergoyahkan. Ia mempertahankan imannya dan tetap menjadi pengikut setia. Seorang perempuan yang kurang beriman pasti sudah berpaling dari Tuhan.
Tetapi ibu ini bukanlah orang yang tidak mengenal Kitab Suci -- yang kita sebut Perjanjian Lama. Ia adalah seorang murid Firman. Dan jauh sebelum bertemu dengan Anak Allah, Salome sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikirannya.
Kita dapat melihat bahwa kasih ini menular pada anak-anaknya. Yohanes adalah contoh yang sempurna. Ia adalah murid Yohanes Pembaptis sebelum Yesus memulai penginjilan-Nya. Yohanes Pembaptis, seperti yang mungkin Anda ingat, bukanlah jenis penginjil yang sembarangan, yang tinggal di padang gurun.
Suatu hari, ketika Yesus berada di sekitar tempat Yohanes Pembaptis sedang membaptis, Yohanes dan temannya berinisiatif untuk mengikuti Yesus ke tempat Ia tinggal dan melewatkan hari itu bersama-Nya (Yohanes 1:35-39).
Beberapa bulan kemudian, Yesus datang ke tempat asal Yohanes. Begitu Tuhan memanggil dia dan kakaknya, Yakobus, untuk mengikuti-Nya, mereka langsung meninggalkan segalanya dan pergi mengikuti Dia (Matius 4:21-22; Markus 1:19-20).
Yakobus dan Yohanes mengasihi Yesus. Kadang-kadang, mereka terlalu berlebihan. Pernah Yesus ditolak di suatu desa. Seketika itu juga, anak-anak Zebedeus merasa sangat tersinggung. Mereka mengutip bacaan dari Kitab Suci dan bertanya kepada Yesus apakah mereka perlu menurunkan api dari langit, "seperti yang dilakukan Elia" (Lukas 9:54-56).
Ini bisa membantu kita memahami mengapa Yesus memberikan tempat khusus dalam hati-Nya untuk anak-anak Zebedeus. Mereka adalah anggota "lingkaran terdalam"-Nya dan merupakan dua dari tiga murid yang paling dekat dengan-Nya.
Kapan saja Tuhan tidak ingin sendirian atau tidak ingin berada dalam kumpulan orang banyak, Ia akan mengajak kedua kakak-beradik ini dan seorang rasul lainnya menemani-Nya (Markus 5:37-43; 9:2-13; Matius 26:37- 46). Juga ada pengertian di antara para rasul bahwa Yohanes adalah "murid yang dikasihi Yesus" (Yohanes 13:21-25).
Yohanes adalah satu-satunya murid yang tidak meninggalkan Yesus selama masa sengsara-Nya. Sama seperti ibunya, yang menolak untuk meninggalkan Anak Allah selagi Ia menanggung dosa dunia di atas kayu salib, Yohanes tinggal sedekat mungkin dengan Guru, Tuhan, dan Tuannya.
Beberapa tahun kemudian, Yohanes menulis, "Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'Ibu, inilah anakmu!' Kemudian kepada murid-Nya: 'Inilah ibumu!'" (Yohanes 19:26-27).
Anak-anak Zebedeus ini terus melayani Tuhan, yang telah bangkit, sepanjang hidup mereka. Yakobus adalah rasul pertama yang menjadi martir (Kisah Para Rasul 12:2). Yohanes yang terakhir. Dari antara semua rasul, dialah paling lama melayani Kristus.
Yohanes menulis lima dari enam puluh kitab dalam Alkitab. Tema tentang kasih ada di mana-mana dalam tulisannya. Dalam Injil Yohanes, ia menulis tentang kasih Allah dan kasih Anak-Nya, Yesus Kristus. Dalam 1,2,3 Yohanes, surat-suratnya kepada gereja awal, Yohanes juga menulis tentang kasih di antara saudara-saudara seiman. Dalam Wahyu, Yohanes menceritakan penglihatannya yang memberi kita gambaran tentang sejarah dunia ini.
Semua tulisannya memantulkan sesuatu yang disebut Yesus sebagai hukum yang terutama (Matius 22:34-40). Tulisan-tulisannya membantu kita bahkan sampai pada hari ini dan menarik kita untuk mendekat pada Yesus, sebagaimana mereka menarik semua percaya, sampai pada hari Tuhan datang dengan seluruh kemegahan dan kemuliaan-Nya untuk membalas semua orang sesuai dengan perbuatannya (Wahyu 22:12).
Kedua ibu ini sama-sama punya pengaruh besar terhadap anak-anak mereka. Yang satu memalingkan anaknya jauh dari Tuhan sementara yang lain menarik anaknya dekat kepada Tuhan. Pilihan yang diambil oleh para ibu ini tergantung pada seberapa baik mereka memahami firman Tuhan.
Hal yang sama juga berlaku bagi Anda dan saya. Karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga membaca Alkitab dan memahami firman Tuhan. Jika Anda merasa bahwa penyelidikan ini bermanfaat, kami mengajak Anda untuk menyelidiki ibu-ibu lain dalam Alkitab.
Lakukanlah secara pribadi di rumah atau bersama keluarga, teman, atau kelompok gereja. Anda akan menjadi lebih bijaksana, dan anak-anak Anda akan mendapatkan banyak manfaat.
Renungan:
Apakah Anda pernah merenungkan atau belajar dari kesuksesan dan kegagalan orang tua Anda dalam mengajar anak-anak mereka di dalam Tuhan? Pengajaran dan moral apa saja yang dapat Anda berikan kepada anak-anak Anda dalam segala hal yang Anda ucapkan dan lakukan?
Diambil dari:
Judul majalah : Warta Sejati, edisi 48/ 1 - 2006
Penulis : Susan Estrada
Halaman : 10 -- 14

Comments

Pencarian

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates