Sabtu, 11 Februari 2012

Asal-usul Perayaan Valentine

Asal-usul Perayaan Valentine
Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi oleh hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol cinta ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.
Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.
Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.
Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.
Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?"
"Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita."
"Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku."
"Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine.
"Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap. Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.
Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.
Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.
Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine. Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, merka memasukka nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.
Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur,soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun.
Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.
Di zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an.
Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"
Sumber>>>>>
http://crosswalk.com/faith/ministry_articles/guestcolumns/509916.html;ht...

Merayakan Hari Valentine

Apakah Perlu Merayakan Valentine Day?



Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Bagaimana menyikapi perayaan hari Valentine (Valentines Day)? Apakah orang Kristen perlu merayakan hari Valentine di gereja atau apakah anak-anak remaja pemuda sebaiknya merayakan hari Valentine atau harus dilarang? Karena berdasarkan sejarah lahirnya hari Valentine tidak berkaitan langsung dengan peristiwa atau pengajaran Alkitab, di sisi lain ada beberapa cerita mengenai sejarah hari Valentine ini.
Namun jika kita melihat fenomena mengenai perayaan dan peringatan hari Valentine di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sangatlah mengagumkan. Pada saat menjelang hari Valentine kita melihat bagaimana respon anak-anak muda khususnya sangat bergairah dan bersemangat menyambut hari Valentine ini. Mereka berusaha membeli dan menggunakan pernak-pernik asesoris, bunga, sepatu dan pakaian yang berwarna pink atau merah sebagai simbol yang mengidentikkan hari Valentine. Pada masa-masa seperti ini sangat menguntungkan para penjual bunga, Karena tidak sedikit yang merayakan hari Valentine dengan memberi bunga sebagai ungkapan kasih sayang kepada kekasih atau kepada orang-orang yang mereka kasihi.
Lama kelamaan perayaan hari Valentine terus berkembang di berbagai Negara di dalam budaya kehidupan anak-anak muda. Tidak terlepas dari kehidupan anak-anak Kristen di gereja. Bahkan tidak sedikit gereja yang secara khusus menggunakan konteks perayaan hari Valentine ini sebagai tema dalam ibadah-ibadah gereja di persekutuan (kebaktian ) kaum muda bahkan di dalam acara ibadah umum. Lalau apa signifikansi perayaan hari Valentine ini bagi gereja jikalau hari Valentine ini bukan bagian dari pengajaran Alkitab atau peristiwa sejarah penting dalam kekristenan?

Bisa dikatakan memang tidak ada signifikansi yang sangat kuat untuk merayakan hari Valentine di gereja, namun melihat bahwa ada satu peristiwa indah yang merupakan momentum yang perlu diingat berkaitan dengan penerapan kasih dalam kehidupan melalui seorang yang bernama Valentine yang sangat mengesankan dan telah menjadi sebuah trend budaya yang sangat mendunia. Maka ketika hari Valentine dirayakan dalam konteks ibadah gereja tentu bukan sekedar merayakan kasih manusia semata, namun setiap orang Kristen pasti akan memusatkan kebenaran tentang kasih itu kepada sumber kasih yang terbesar, pemilik kasih dan pemberi kasih bagi seluruh umat manusia yaitu Allah: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
Allah adalah kasih, itu yang dituliskan dalam Alkitab : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1Yohanes 4:16). Ayat ini juga menegaskan bahwa seseorang hanya dapat memiliki kasih jika ia berada di dalam Allah, di luar kasih Allah hanya ada kasih yang semu. Kasih sejati adalah milik Allah dan diberikan kepada manusia semenjak manusia diciptkan dalam kasih dan rencana terindah bagi hidup manusia. Bahkan rencana keselamatan telah direncanakan oleh Allah dalam kasih-Nya dan dalam kerelaan-Nya dan dalam hikmat-Nya semenjak kekekalan (Efesus 1:3-7).

Jadi merayakan hari Valentine dalam konteks mengingat dan merenungkan kasih Allah yang agung dan luar biasa adalah sesuatu yang sangat baik, konteks hari valentine menjadi momentum untuk menyatakan kebesaran kasih Allah di tengah kehausan dunia akan kasih. Besarnya respon terhadap hari Valentine menunjukkan besarnya keinginan manusia untuk memiliki kasih dan berbagi kasih sehingga hari Valentine disebut sebagai hari kasih sayang. Saat seperti ini juga seharusnya menjadi momentum bagi setiap orang Kristen untuk menyatakan kasih itu bukan hanya kepada orang-orang yang dikasihinya, tetapi juga kepada orang-orang yang bahkan tidak dikenal, malahan Tuhan Yesus mengajarkan agar kasih diterapkan kepada musuh. Yaitu orang yang tidak menyukai kita atau membenci diri kita atau orang-orang yang berbeda pendapat dan berbeda keyakinan atau penilaian dan sebagainya: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” (Lukas  6:27).
Kasih terbesar dan kasih teragung telah diberikan oleh Kristus kepada umat-Nya dalam peristiwa penebusan (redemption) di kayu salib bagi untuk pengampunan seluruh dosa dan kesalahan yang telah terjadi dalam hidup umat-Nya. Semua itu diberikan sebagai anugerah (Efesus 2:8-9), karena manusia tidak sanggup membebaskan dirinya dari hukuman dosa dan karena manusia tidak sanggup membayar dosa-dosanya dengan apa pun, dan hanya anugerah dalam kasih Allah yang besar yang sanggup menyelamatkan manusia dari dosa itu: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (I Yohanes 4:10). Peristiwa inilah yang harus menjadi pemicu dan alasan terbesar bagi orang Kristen untuk merayakan hari Kasih Sayang. Tidak berhenti hanya pada konsep, berbicara mengenai kasih bukan hanya tentang konsep, tetapi lebih kepada hal praktis dimana kasih itu harus dipraktekkan dalam segala aspek kehidupan sehari-hari (1 Kor 13:4-8). Happy Valentine Day.
  • Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (I Yohanes  3:1)
  • “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7).
  • “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (I Yohanes  4:11).
  • “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (II Yohanes  1:6)
Sumber>>>>>>

http://inspirasijiwa.com/?p=1677

Jumat, 10 Februari 2012

Bagaimana Jika Saya Tidak Menerima atau Menolak Tuhan?

T:  "Bagaimana jika aku tidak menerima Tuhan, tapi juga tidak menolakNya? Jika aku tidak mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, tapi aku juga tidak menegaskan bahwa Dia sungguh ada?"

J kita:  Mungkin semua itu tergantung pada apa yang sungguh saudara tahu dalam hatimu. Dengan kata lain, saudara dapat suatu hari berdiri di hadapan Tuhan dan berkata "Tapi, aku tidak pernah tahu bahwa Engkau ada!" Dan Dia mungkin menjawab "Ya, saudara tahu". Aku tahu pasti, saudara mengetahuinya. Jauh di dalam hatimu saudara tahu bahwa aku sungguh ada. Aku tahu karena Aku memberikan pengenalan itu di sana. Saudara tidak pernah sungguh-sungguh ingin mengenalKu, jadi saudara menolak untuk mengakui bahwa Aku ada. Saudara tidak mempedulikan informasi yang Aku berikan, tapi, pengenalan itu tetaplah di sana".


Lebih dari mungkin, kita bertanggung jawab untuk apa yang kita tahu. Pertanyaan sebenarnya adalah apa yang sungguh-sungguh kita tahu? Seberapa banyak pengenalan yang Tuhan tempatkan di hati kita? Apapun itu, kita terpanggil untuk meresponinya. Dan mungkin banyak hal yang tidak kita akui. Alkitab mengatakan bahwa hati manusia itu licik melebihi segalanya (Yeremia 17:9)
Mungkin pertanyaan-pertanyaanmu adalah "Bagaimana jika aku hanya sekedar tahu dan tidak pernah membuat suatu keputusan? Baiklah, jika saudara benar-benar tidak punya informasi lebih lanjut. Namun, Alkitab mengatakan bahwa keberadaan Tuhan dibuktikan oleh kerumitan dunia di sekitar kita, dan karenanya kita bertanggungjawab untuk tahu bahwa Dia ada. Karena penciptaan dunia merupakan kemampuan Tuhan yang tidak bisa kita lihat--kekuatan kekalNya dan ketuhananNya--telah terlihat jelas, dimengerti dari apa yang telah diciptakan, sehingga manusia tidak memiliki perkecualian apapun (Roma 1:20)
Dan bagaimana jika melampaui hal-hal itu? Banyak orang mengatakan bahwa mereka merasakan, selama bertahun-tahun, ketuka Tuhan di hati mereka, mencoba untuk masuk. Jika hal itu benar untuk seseorang, (dan Tuhan tahu), dan, tidak membuat keputusan akan menjadi sama dengan menolakNya. Jika Dia ingin masuk ke dalam hati kita, tidak aka nada zona abu-abu.
Kemudian, ada juga pribadi Yesus Kristus. Orang ini diklaim sebagai Tuhan, membuat banyak mujizat untuk membuktikan ketuhananNya, mati untuk dosa-dosa kita, bangkit dari kematian, dan meninggalkan sebuah cerita utnuk kita ketahui. Dia adalah orang yang sama yang berkata "Siapa tidak bersama Aku melawan Aku" Dengan Yesus, saudara tidak dapat hanya sekedar tahu". Dia tidak memberi pilihan itu.
Hal lain untuk dipikirkan: Hal paling utama dalam hidup ini mungkin adalah membuat sebuah keputusan untuk menerima atau menolak Tuhan. Jika ini masalahnya, mungkin mustahil untuk tidak membuat suatu keputusan. Dengan kata lain, jika kita tidak berkata "ya" kepada Tuhan, kita telah berkata "tidak".

Sumber>>>>
http://mahasiswakeren.com/artikel/701bagaimana.html

Apakah Hubungan Seks Diluar Nikah itu Salah? Apakah Kita Perlu Hidup dalam Penyangkalan Diri?

T:  "Apakah hubungan seks diluar nikah itu salah? Mengapa setiap hal yang menarik dan menyenangkan selalu salah menurut orang Kristen? Mengapa Allah yang kasih harus mengatakan bahwa saudara tidak boleh melakukan hal-hal yang menyenangkan?"
J kita:  Pikirkan ini, apakah menyetir mobil sesuatu yang salah? Tidak. Apakah menyetir mobil bagi seorang anak berusia 13 tahun adalah sesuatu yang salah? Ya. Bagi seorang anak usia 13 tahun itu hal yang menarik dan menyenangkan, tetapi itu sangat berisiko bagi hidupnya dan orang lain.

Apakah hubungan seks yang menyenangkan antara suami dan istri adalah salah? Tidak. Apakah hubungan seks itu salah jika dilakukan dengan pasangan orang lain? Ya. Mungkin itu menarik dan menyenangkan tetapi seringkali hal hal itu menimbulkan penderitaan yang dalam bagi pasangan itu dan anaknya nanti.
Kita senang untuk menentukan apa yang benar dan salah menurut apa yang kita inginkan. Itulah sifat manusia. Jika kita ingin berhubungan seks dengan seseorang, kita ingin membuat standar kita sendiri. Seringkali standar kita adalah jika mereka tidak menikah itu boleh. Tetapi bagaimana akibatnya jika orang lain memiliki resiko suatu penyakit yang menular? Itu akan menjadi tidak jelas. Bagaimana akibatnya jika orang itu hamil dan menghadapi keputusan yang sulit untuk melakukan aborsi? Tidak jelas juga. Bagaimana jika orang tersebut adalah saudaranya? Bagaimana jika orang tersebut memiliki jenis kelamin yang sama? Bagaimana jika seks itu untuk di bayar? Bagaimana jika seks tersebut untuk pornografi? Bagaimana jika itu melibatkan anak-anak?
Apa yang menarik dan menyenangkan bagi seseorang mungkin akan di pandang salah oleh orang lain. Betul? Dimanakah orang dapat menentukan hal yang baik dan salah?
Allah yang maha kasih telah memberikan hikmatNya dalam hidup kita. Dia mengatakan bahwa dosa adalah sesuatu yang menyenangkan untuk sesaat. Mungkin tidak ada dosa yang tidak menyenangkan untuk sesaat. Tetapi kesenangan tidak dapat menjadi standar kita satu-satunya untuk membuat suatu keputusan. Bayangkan bagaimana kesenangan itu akan benar-benar menjadi pukulan bagi seorang adik laki-laki atau perempuan pada saat itu. Hal-hal yang menyenangkan hanya untuk sesaat saja, tetapi kita harus dapat menahannya karena kesenangan itu bukanlah penuntun kita.
Tuhan ingin agar kita dapat menjaga diri dari masalah-masalah yang mengerikan yang dapat membuat kita membuat suatu keputusan yang bodoh. Sesungguhnya Dia mengasihi kita dan ingin melindungi kita dari keputusan dan kebiasaan yang akan merusak hidup kita atau bahkan hidup orang lain.
Mengapa Tuhan (yang menciptakan seks) membatasi hubungan seks dalam pernikahan? Apakah itu untuk merusak kesenangan orang atau mungkin untuk melindungi suatu pasangan untuk menikmati tingkat keintiman yang paling dalam, yang hanya disediakan untuk satu sama lain? Ketika Tuhan memberikan kita tuntunan, Dia memiliki alasan yang tulus dan didorong oleh kasihNya bagi kita.
Biasanya orang hanya melakukan hubungan seks untuk kegembiraan dan kesenangan sesaat, tetapi bagaimana akibatnya jika ada sesuatu yang lebih berharga dibanding kesenangan sesaat tersebut? Bukankah saudara juga akan memperlakukan orang lain dengan nilai yang lebih besar, seperti martabat, kebanggan diri? Barangkali Tuhan berpikir bahwa hubungan dapat manjadi lebih intim, aman dan lebih kuat jika mereka membangunnya pada sesuatu yang lebih penting dibanding hubungan seksual. Apapun yang menjadi alasan Tuhan, hikmatNya melebihi kita dan Dia dapat dipercayai. Dan kita akan dapat melihat nilai-nilai dalam mengikut Dia.


Sumber>>>

 http://mahasiswakeren.com/artikel/720apakah.html

Memuaskan Kehausan Sejati Saudara

Memuaskan kehausan sejati kita: Bagaimana pesta minuman keras dapat menjadi pengganti bagi hubungan yang dekat dan memuaskan dengan orang lain
Oleh: Judy Clark\
 
Suatu musim panas di Colorado, saya dan seorang teman bertemu beberapa pelarian dari New Mexico. Mereka berhenti dari sekolah mereka di SMA dan bertualang dengan menari dan perlombaan minum minuman keras demi mendapatkan uang. Pada awalnya, saudara mungkin berpikir bahwa mereka menyia-nyiakan hidup mereka. Namun setelah saya menghabiskan 2 jam bersama Gabriel, Sean, Matt, dan Peter, saya menyadari bahwa mereka hidup dengan sesuatu yang dirindukan banyak orang lain.
Orang-orang ini tidak punya banyak uang, tanpa tempat tinggal, pakaian yang usang, dan sering kekurangan makanan. Saya dan teman saya mengundang mereka untuk makan malam. Kami duduk bersama pada suatu kedai makan dan melihat mereka melahap banyak hamburger, burritos, dan susu kocok, serta mendengar cerita mereka. Saya baru sadar bahwa mereka adalah suatu komunitas.

Hubungan yang nyata dan sehat: sesuatu yang telah lama kita rindukan.

Mereka saling melihat. Jika salah seorang mendapatkan sesuatu, dia membagikannya. Salah satu dari mereka hanya makan separuh makanannya karena dia ingin membagi sisanya dengan seorang sahabatnya yang tidak bersama kami. Mereka berbicara tentang saling mengasihi satu sama lain. Mereka adalah orang tua satu sama lain. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Mereka berbicara tentang ketakutan, rindu kepada ibu mereka, merasa tertolak, lapar. Mereka hidup disuatu jalan hidup yang tidak akan pernah saya pilih--tetapi mereka mempunyai sesuatu dimana banyak orang yang berpendidikan dan "mapan" tidak memiliki.
Mereka saling memiliki. Mereka mempunyai hubungan yang sejati. Mereka terhubung erat satu sama lain.
Itulah yang kita semua inginkan. Kita menginginkan kehidupan yang sejati. Kita tidak ingin menjadi seperti hamster yang berlari sepanjang labirin dan memutar rodanya sepanjang hari--sendirian dan tidak pernah pergi kemanapun. Kita ingin berhubungan. Kita ingin berteman. Kita ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas yang saling mempedulikan satu sama lain.
Teman saya, Rebecca, baru saja lulus dari universitas Vanderbilt. Ketika dia memasuki "dunia yang sesungguhnya", dia berkata kepada saya, "saya hanya ingin menjadi anggota kelompok Amish. Pendapatnya tidak ada hubungannya dengan agama dan segala sesuatu yang dilakukan oleh komunitasnya. Mereka mempunyai tetangga dan keluarga. Mereka saling menolong untuk membangun lumbung. Mereka datang menolong ketika salah seorang diantaranya berada dalam bahaya. Hidup itu sederhana dan pelan, dan saudara dapat menghadapi apapun dalam jangkauan saudara karena saudara tahu bahwa saudara tidak sendirian. Terdengar menyenangkan bukan?
Menurut saya, kita rindu akan sebuah hubungan yang langgeng, penuh oleh rasa percaya, dan sukacita. Banyak diantara kita yang tumbuh di lingkungan rumah dimana ayah kita bekerja lembur di kantor untuk mendapatkan promosi demi promosi sehingga mereka dapat memebeli jam tangan Rolex atau Beemer. Ibu mempunyai gelar kesarjanaan dan keluarga menginginkan pendapatan tambahan sehingga ibu harus bekerja. Orang tua kita hidup bersama namun dengan kondisi yang demikian. Hubungan menjadi retak dan tingkat perceraian naik secara tajam.

Bir: Sebuah pengganti yang terkenal untuk hubungan yang sehat.

Ketika Grey Anatomy, Sex in the City atau Friends diputar lagi, kita senang untuk melihat orang yang muncul saling berhubungan. Dan dengan putus asa kita menginginkannya terjadi dengan diri kita. Kita menginginkan dan membutuhkan hubungan yang baik, tetapi terlihat jelas, walaupun hal itu sangat menyakitkan dan beresiko.
Jadi, apa yang kita lakukan? Siapa yang dapat membuat saya merasa baik? Siapa yang dapat saya andalkan? Siapa yang dapat menolong saya keluar dari sebuah dunia yang dipenuhi keterpisahan--walaupun hanya untuk sementara?
Jika saudara seperti banyak mahasiswa lainnya, duduk menikmati sebotol Jack Daniel. Minuman keras membuat saudara merasa tenang dan baik-baik saja. Selalu dapat terjangkau dan selalu ada ketika saudara memerlukannya. Tidak peduli seperti apa saudara. Itu akan membuat saudara merasa senang, menarik, dan diterima. Dan mengurangi ketidaknyamanan yang kadang-kadang terjadi saat bergaul dengan orang lain.
"Kita ingin berhubungan. Kita ingin berteman. Kita ingin menjadi bagian dari sebuah komunitas yang saling mempedulikan satu sama lain."
Hubungan ini akan terjadi untuk sementara, tapi saudara akan menyadarinya. Semua itu hanya sementara.
Mungkin bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi saudara bahwa kita mencari cinta disemua tempat yang salah. Penulis dan psikolog, Dr. Henry Cloud menulis, "kita membutuhkan cinta di awal tahun kehidupan kita. Jika kita tidak mendapatkan cinta ini, kita merindukannya di sepanjang sisa hidup kita. Kerinduan akan cinta ini begitu kuat sehingga kita tidak menemukannya didalam hubungan dengan orang lain. Kita mencarinya dalam hal lain, seperti makanan, pekerjaan, hubungan seks, atau menghamburkan uang...mabuk atau bekerja keras secara berlebihan."1
Shelly, seorang mahasiswi di Universitas Alabama, mengatakan, "saya dapat menghabiskan setiap malam saya di bar untuk nongkrong dengan teman-teman saya sambil mabuk, namun ketika saya bertemu mereka esoknya di kampus, kami tidak saling menyapa." Shelly mempunyai hubungan namun dia menggambarkannya sebagai sesuatu yang sebenarnya adalah palsu. Kebutuhan sejatinya untuk berhubungan dengan orang lain tidak terpenuhi.
Di sisi lain, Ben, pergi keluar untuk minum dengan teman-temannya dan alkohol mempengaruhi mereka untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Persahabatan mereka terlihat mendalam. Tetapi Ben mengatakan, "Saya ingin belajar bagaimana bersikap jujur tanpa dipengaruhi alkohol."

Kehausan sejati kita adalah hubungan yang sehat.

Dr. Cloud melanjutkan, "Biasanya orang terikat pada satu hal yang khusus, seperti alkohol, kokain, pekerjaan, judi, hubungan yang rusak, keagamaan, prestasi, dan materi. Akan tetapi hal dan tindakan tersebut tidak pernah dapat memuaskan karena itu tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Kita tidak benar-benar membutuhkan alkohol, narkoba, atau seks. Kita dapat hidup dengan baik tanpa hal-hal tersebut. Bagaimanapun juga, kita sebenarnya membutuhkan hubungan, dan kita tidak dapat hidup dengan baik tanpanya." (kesimpulan saya)2
Ketika saya bertanya kepada mahasiswa mengapa mereka minum alkohol, kebanyakan menjawab, "minum alkohol itu menyenangkan." Sepertinya, itu adalah jawaban yang dapat diterima. Tetapi dibalik kesenangan itu, pernahkah saudara bertanya mengapa saudara mulai minum? Mungkin itu merupakan sebuah pelarian sementara dari stress, ketidakpastian akan masa depan, atau tekanan dalam kondisi sosial.
Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara tidak perlu mencari rasa aman lagi, apakah itu alkohol, seks, atau makanan. Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara mungkin akan sedikit mencoba untuk memenuhi kekosongan dengan sesuatu hal yang lain. Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, beberapa kebutuhan yang mendasar akan terpenuhi.
"Ketika saudara mempunyai hubungan yang baik, saudara tidak perlu mencari rasa aman lagi, apakah itu alkohol, seks, atau makanan."
Dr. Cloud melanjutkan, "keterikatan merupakan salah satu ide yang paling mendasar dalam hidup dan alam semesta. Hal itu merupakan sebuah suatu kebutuhan manusia yang paling mendasar. Tuhan menciptakan kita dengan suatu kerinduan akan hubungan--untuk hubungan dengan Dia atau dengan sesama kita. Pada intinya kita mahkluk yang saling berhubungan. Tanpa sebuah hubngan yang solid dan terikat, jiwa manusia akan terperosok kepada masalah-masalah psikologis dan emosional. Jiwa tidak akan tenang tanpa terhubung dengan yang lain."3
Bagaimana kita belajar untuk memiliki hubungan yang terikat? Mulailah untuk jujur dengan dirimu sendiri. Dapatkah hal itu menjadi alasan bagi saudara untuk mabuk, makan berlebihan atau terlalu sedikit, penyalahgunaan seks, atau memaksa diri saudara kepada kesempurnaan adalah karena saudara sesungguhnya membutuhkan sebuah hubungan?
Jika demikian, banyak buku-buku yang baik tentang bagaimana membangun hubungan dengan orang lain (salah satunya ditulis oleh Dr. Cloud). Namun ada suatu hubungan kunci yang menawarkan sebuah dasar yang asli untuk memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain. Dr. Cloud berbicara tentang kebutuhan kita yang terhubung dalam sebuah cara yang signifikan baik kepada orang lain maupun kepada Tuhan. Seorang filsuf dan fisikawan Perancis, Blaise Pascal, mengatakan dalam hati setiap orang ada sebuah kekosongan yang diciptakan oleh Tuhan yang tidak dapat diisi oleh hal-hal lainnya.
Dapatkah kita memiliki sebuah hubungan denga Tuhan yang menciptakan kita? Dapatkah kita berhubungan dengan Tuhan? Saya tidak berbicara tentang Tuhan yang memberikan saudara sebuah daftar perintah dan larangan atau seorang polisi besar di angkasa yang siap untuk menghukum saudara dalam pelanggaran terkecil sekalipun. Tetapi saya sedang membicarakan tentang sebuah hubungan dengan Tuhan yang berdasarkan pada kasih dan kebenaran dan kebebasan dan kedamaian hati.

Memulai sebuah hubungan dengan Tuhan

Tuhan menciptakan saudara agar saudara dapat mengenal Dia. Dalam inti keberadaan saudara, saudara pasti mengetahuinya. Tetapi kita semua memiliki roh pemberontak yang mengatakan kepada Tuhan, "Hei, lakukanlah dengan caraMu dan aku dengan caraku sendiri. Jangan ganggu aku, kecuali aku membutuhkanMu." Beberapa dari kita mengatakan hal itu. Yang lain hanya memikirkannya, jika kita dapat menghindar dari seluruh "hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan", semuanya akan berlalu. Bahkan beberapa dari kita mengatakan bahwa kita menginginkan sebuah hubungan dengan Tuhan, tetapi kita ingin datang kepadaNya dengan cara kita sendiri--mencoba dengan cara kita. Kebenaran itu adalah ketika tidak ada satupun dari kita yang mampu mendapatkan sebuah hubungan dengan Tuhan yang sempurna.
"Sama seperti saat kita mabuk atau makan berlebihan memiliki banyak konsekuensi, begitu juga dengan memberontak atau mengabaikan Tuhan."
Sama seperti saat kita mabuk atau makan berlebihan memiliki banyak konsekuensi, begitu juga dengan memberontak atau mengabaikan Tuhan. Bahkan saudara mungkin tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensi tersebut tapi akibatnya hal itu akan menimpa saudara sendiri. Tuhan telah mengatakan bahwa konsekuensinya adalah terpisah selamanya dari Dia. Saudara berada di kampus saat ini, dengan harapan untuk dapat bersenang-senang dan mempersiapkan masa depan saudara. Sulit untuk memikirkan hal-hal tentang kekekalan...tetapi saudara tidak pernah tahu. Teman saya, Steve, berusia 20 tahun mungkin telah meninggal ketika saudara membaca ini. Dia meninggal karena mengidap HIV melalui darah yang terinfeksi. Dia tidak memiliki pilihan selain berurusan dengan kekekalan sekarang.
Tuhan telah memberikan sebuah jalan bagi kita hingga kita dapat mengenalNya di dunia dan untuk selama-lamanya. Dia melakukannya dengan mengutus Yesus kedalam dunia untuk hidup seperti kita dan hidup dengan sempurna. Tetapi bukan itu saja. Kita seharusnya dihukum karena dosa-dosa kita, tetapi Yesus bersedia mengorbankan diriNya di kayu salib bagi kita. Yang harus kita lakukan untuk dapat mengenalNya adalah meletakkan kepercayaan kita bahwa Yesus telah membayar sampah didalam hidup kita yang memisahkan kita dari Tuhan yang sempurna. Saudara dapat menerimanya dan meletakkan iman saudara didalam Dia atau saudara dapat memilih untuk menolak Dia. Semua keputusan ada di tangan saudara.
Ketika saya berdoa kepada Tuhan, saya berkata kepadaNya bahwa saya ingin mengenal Dia dan meletakkan kepercayaan saya didalam kematian Yesus bagi saya. Saya memulai suatu hubungan dengan Dia. Sekarang saya dapat berhubungan dengan Tuhan semesta alam. Ketika hubungan itu semakin erat, hidup saya berbeda. Saya tidak perlu berputar-putar mencoba mencari hal-hal lainnya untuk memuaskan saya. -apakah itu uang, minuman keras, atau bekerja sangat keras. Ketika saya meninggalkanNya, saya berputar-putar untuk mencoba mencari sesuatu yang hilang itu.
Saya tidak tahu apa yang saudara hadapi. Saya tidak tahu bagaimana tanda-tanda tersebut terjadi dalam hidup saudara. Mungkin itu semua adalah minuman keras, seks, atau narkoba. Atau berjuang mati-matian. Atau menyiksa diri saudara untuk mendapat nilai A sehingga saudara dapat merasa baik-baik saja. Semua itu merupakan hal-hal pengganti bagi kebutuhan sejati kita akan hubungan dengan orang lain dan Tuhan. Kita semua meiliki kekosongan itu didalam diri kita yang hanya dapat dipenuhi melalui hubungan dengan Tuhan.
Mungkin saudara rindu untuk memulai hubungan dengan Tuhan saat ini juga. Yang harus saudara lakukan hanyalah berkata kepada Dia. Dia tahu kerinduan hati saudara dan lebih memperhatikannya dibanding dengan kata-kata saudara. Saudara dapat mengatakannya seperti ini:
"Tuhan, saya ingin mengenalMu. Saya ingin dapat berhubungan dengan Engkau. Saya telah mencoba banyak hal untuk memenuhi kebutuhanku akan Engkau, dan semuanya tidak berhasil. Ampuni saya karena saya tidak lebih dahulu datang kepadaMu. Terima kasih karena Engkau mengasihiku dan menginginkan agar saya mengenalMu. Saya mengaku bahwa Engkau membuat hubungan ini menjadi mungkin melalui kematian Yesus. Saya percaya kepadaMu. Amin."
Saudara akan menemukan bahwa hubungan dengan Tuhan akan memenuhi dan memuaskan saudara. Ketika saudara berhubungan dengan Tuhan saudara memiliki dasar untuk membangun hubungan yang berarti, kekal, dan berharga. Memuaskan kehausan sejati saudara.

Sumber>>>>

http://mahasiswakeren.com/artikel/507saudara.html

Saya telah mengundang Yesus masuk ke dalam hidup saya ... (informasi berikutnya)
Saya masih ragu-ragu, tolong jelaskan lebih lanjut...
Saya ada pertanyaan...


Comments

Pencarian

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates