Selasa, 28 Februari 2012

10 Ways to Practice Purity

Sometimes it's a tough balance, but showing love for another and remaining pure is possible.
by Ron Hutchcraft 


When you fall in love, it's natural to want to express your love in physical ways. But you also know God wants you to remain sexually pure—in both your actions and your thoughts. Sometimes it's a tough balance, but showing love for another and remaining pure is possible. Here are some suggestions:
1) Keep innocent expressions special. Rather than making the innocent expressions a mere prelude to the "heavier stuff," make the most of them. Let holding hands mean something. Express tenderness by simply putting your arms around each other. Make sure a kiss communicates true feeling and isn't just the first step to further physical involvement.
2) Pace your passion. Every marathon runner knows that you don't use up your energy at the beginning of the race; you need most of it at the end. Pacing your passion means that you realize you're trying to remain pure all the way to your wedding day. It's OK to express your love in little ways, but don't start messing with the package that is sex. To get real practical, avoid French kissing and petting—anything that is sure to ignite the fires of passion.
3) Don't feed your fantasies. It's normal to think about sex sometimes. In fact, with the way advertising and Hollywood exploit sex, it would be impossible not to think about it. So choose your entertainment carefully. Soap operas, certain songs, books, television shows, movies and Web sites only turn up the pressure. Feeding your thought life with junk only makes it harder to remain pure in your actions.
4) Remember whose property you're touching. You do not own the person you're dating. That person belongs to God. Imagine there's a sign on everyone you date that reads: PROPERTY OF JESUS.
5) Make a promise to God, and daily renew your commitment. Decide where you're going to draw the line, and tell God that with his help, you are not going to cross that line until marriage. Don't commit to it unless you mean it, though. The Bible says it's a serious thing to make a vow to God. At the same time, realize that you can't stick to your promise without his help. That's why it's important to renew your commitment daily.
6) Acknowledge Jesus' presence on every date. Before a date, it's normal to spend a lot of time getting ready. After all, you want to look your best. But you also want to make sure you're spiritually prepared. So spend at least as much time in prayer as you do in front of a mirror. As it says in Proverbs 3:6: "Seek his will in all you do, and he will direct your paths."
7) Agree on your standards. Before sex becomes an issue in the relationship, talk about your standards with your boyfriend or girlfriend. Don't dwell only on the negative—what you won't do. Hebrews 10:24 tells us to "encourage one another to outbursts of love and good deeds." Discuss ways your friendship can help each of you become a better person.
8) Don't always go it alone. Sure, you want to be alone with your date; that's only normal. Yet too much time alone can lead you to do things you'll regret later. Your relationship will be a lot healthier if you spend time with each other's families and friends.
9) Put real love first. Genuine love always respects the other person. It never says, "If you love me, you'll … " Real love says instead, "Since I care about you so much, I will respect you, treat you with kindness, and never ask you to do something you know or feel is wrong."
10) Declare a new beginning. If you think you've already given away too much, don't give up. The beauty of Christianity is that sins are forgiven and erased (see "A Second Chance at Virginity?" on page 38). You can start over today.


Is it OK to Date for Fun?


One of my Christian friends believes people shouldn't date until they're ready to get married.Answer by Tim Stafford  
 
Q. One of my Christian friends believes people shouldn't date until they're ready to get married. She thinks you should only date "the right one." Personally, I like dating. Is it OK to date just for fun? 

A. Before I give you my opinion, I encourage you to talk about this issue with your parents. Their feelings should play a large role in the decisions you make about dating.

In my opinion, it's OK to date for fun. Along with being fun, I think dating can be very valuable. It gives you real–life experience with the opposite sex and opportunities to build healthy relationships. Hopefully, when you are ready to marry, your dating experiences will have given you the skills to develop a marriage based on love, trust and mutual respect.
Another school of thought, which your friend seems to be following, says dating should only happen as part of courtship. Courtship is dating with the intention of marriage. Two people "court" one another until they feel they know each other well enough to marry. This means teenagers don't date at all, because they're too young to seriously consider marriage.
I respect your friend's approach, but I feel a little differently. I think finding the "right one" usually comes through a lot of trial and error. If a couple can treat each other with real respect, can date in ways that get them talking to each other (not just going to movies and making out), and keep their sexual desires under control, then I think they are doing just what it takes to find the "right one."
Dating can be a good way for you to find out what kind of person will be the "right one." It's also an important way for you to learn how to become the "right one" for somebody else.

Due to the volume of mail, Tim cannot answer every letter.

Rabu, 22 Februari 2012

Kesatuan tubuh Kristus

Baca: Markus 9:38-41
Mengapa perpecahan gereja atau organisasi Kristen mudah terjadi? Memang, ketika visi-misi gereja diselewengkan dari kebenaran Alkitabiah, perpecahan sering tidak bisa dihindari. Akan tetapi, banyak kali perpecahan terjadi karena sikap egosentris yang tinggi. ‘Ini kelompok kita, bukan kelompok dia.’ Perbedaan yang menyebabkan perpecahan bukan pada hal yang fundamental melainkan pada perbedaan-perbedaan yang dibuat oleh manusia berdosa. Perbedaan warna kulit, suku, bahasa, dan status sosial adalah dijadikan dasar untuk berbeda.
Yohanes menunjukkan sikap egosentris seperti itu. Bagi dia, “bukan pengikut kita” (dua kali disebut oleh Yohanes) adalah kata kuncinya. Padahal Tuhan Yesus melihat hal yang esensial, yaitu berasal dari Roh yang sama. Hanya orang yang memiliki Roh Kudus yang bisa mengadakan mukjizat dalam nama Yesus dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka, tidak peduli apakah orang tersebut berwarna kulit yang berbeda dari kita, atau lulusan sekolah teologi yang bukan dari denominasi kita, atau memiliki tradisi gerejani yang lain, asalkan ia memiliki Kristus di hati, dialah saudara kita.
Yesus pun memaparkan prinsip lain yang lebih umum, “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Dalam iman Kristen hanya ada dua pilihan. Percaya Yesus atau menolak Yesus. Tidak ada pilihan ketiga. Orang yang percaya Yesus adalah saudara kita. Yang menolak Yesus, dia bukan saudara seiman kita. Hal ini tidak berarti yang menolak Yesus menjadi musuh kita. Sebaliknya, mereka menjadi sasaran pelayanan kita karena Yesus mengasihinya. Akan tetapi, sayangnya sering kali orang yang di pihak kita justru kita jadikan lawan kita karena berbeda hanya dalam aspek-aspek sekunder, misalnya beda penafsiran akan cara baptisan, penggunaan karunia roh, dst. Bukankah hal ini justru menjadi batu sandungan bagi orang yang belum mengenal Kristus?
Bagaimana kita mau bicara toleransi dengan pengikut agama lain, kalau di dalam gereja kita terjebak dengan ‘ini kelompokku, itu kelompokmu’? Mari bereskan dulu kesatuan tubuh Kristus!
Dikutip dari Santapan Harian. Hak Cipta : Yayasan Persekutuan   Pembaca Alkitab. Isi Santapan Harian lainnya seperti pengantar kitab,   artikel ringkas, sisipan, dlsb. dapat diperoleh dengan membeli buku   Santapan Harian dari Yayasan PPA: Jl. Pintu Air Raya No 7 Blok C4, Jakarta 10710, ph:3442461-2; 3519742-3; Fax: 344972; email:   ppa@ppa.or.id.Informasi lengkap : PPA di: http://www.ppa.or.id

Sabtu, 11 Februari 2012

Asal-usul Perayaan Valentine

Asal-usul Perayaan Valentine
Pada zaman modern ini, hari Valentine didominasi oleh hati berwarna pink dan yang dipanah oleh Cupid. Padahal asal-usul perayaan ini justru sangat berbeda jauh dengan simbol-simbol cinta ini. Valentine sebenarnya adalah seorang biarawan Katolik yang menjadi martir. Valentine dihukum mati oleh kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang.
Ketika itu, kejayaan kekaisaran Romawi tengah berada di tengah ancaman keruntuhannya akibat kemerosotan aparatnya dan pemberontakan rakyat sipilnya. Di perbatasan wilayahnya yang masih liar, berbagai ancaman muncul dari bangsa Gaul, Hun, Slavia, Mongolia dan Turki. Mereka mengancam wilayah Eropa Utara dan Asia. Ternyata wilayah kekaisaran yang begitu luas dan meluas lewat penaklukan ini sudah memakan banyak korban, baik dari rakyat negeri jajahan maupun bangsa Romawi sendiri. Belakangan mereka tidak mampu lagi mengontrol dan mengurus wilayah yang luas ini.
Untuk mempertahankan kekaisarannya, Claudius II tak henti merekrut kaum pria Romawi yang diangap masih mampu bertempur, sebagai tentara yang siap diberangkatkan ke medan perang. Sang kaisar melihat tentara yang mempunyai ikatan kasih dan pernikahan bukanlah tentara yang bagus. Ikatan kasih dan batin dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai hanya akan melembekkan daya tempur mereka. Oleh karena itu, ia melarang kaum pria Romawi menjalin hubungan cinta, bertunangan atau menikah.
Valentine, sang biarawan muda melihat derita mereka yang dirundung trauma cinta tak sampai ini. Diam-diam mereka berkumpul dan memperoleh siraman rohani dari Valentine. Sang biarawan bahkan memberi mereka sakramen pernikahan. Akhirnya aksi ini tercium oleh Kaisar. Valentine dipenjara. Oleh karena ia menentang aturan kaisar dan menolak mengakui dewa-dewa Romawi, dia dijatuhi hukuman mati.
Di penjara, dia bersahabat dengan seorang petugas penjara bernama Asterius. Petugas penjaga penjara ini memiliki seorang putri yang menderita kebutaan sejak lahir. Namanya Julia. Valentine berusaha mengobati kebutaannya. Sambil mengobati, Valentine mengajari sejarah dan agama. Dia menjelaskan dunia semesta sehingga Julia dapat merasakan makna dan kebijaksanannya lewat pelajaran itu.
Julia bertanya, "Apakah Tuhan sungguh mendengar doa kita?"
"Ya anakku. Dia mendengar setiap doa kita."
"Apakah kau tahu apa yang aku doakan setiap pagi? Aku berdoa supaya aku dapat melihat. Aku ingin melihat dunia seperti yang sudah kau ajarkan kepadaku."
"Tuhan melakukan apa yang terbaik untuk kita, jika kita percaya pada-Nya,"sambung Valentine.
"Oh, tentu. Aku sangat mempercayai-Nya," kata Julia mantap. Lalu, mereka bersama-sama berlutut dan memanjatkan doa.
Beberapa minggu kemudian, Julia masih belum mengalami kesembuhan. Hingga tiba saat hukuman mati untuk Valentine. Valentine tidak sempat mengucapkan perpisahan dengan Julia, namun ia menuliskan ucapan dengan pesan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Tak lupa ditambahi kata-kata,"Dengan cinta dari Valentin-mu" (yang akhirnya menjadi ungkapan yang mendunia). Ia meninggal 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma.
Keesokan harinya , Julia menerima surat ini. Saat membuka surat, ia dapat melihat huruf dan warna-warni yang baru pertama kali dilihatnya. Julia sembuh dari kebutaannya.
Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan St. Valentine. Kebetulan tanggal kematian Valentine bertepatan dengan perayaan Lupercalia, suatu perayaan orang Romawi untuk menghormati dewa Kesuburan Februata Juno. Dalam perayaan ini, orang Romawi melakukan undian seksual! Caranya, merka memasukka nama ke dalam satu wadah, lalu mengambil secara acak nama lawan jenisnya. Nama yang didapat itu menjadi pasangan hidupnya selama satu tahun. Lalu pada perayaan berikutnya mereka membuang undi lagi.
Rupanya Paus tidak sreg pada cara perayaan ini. Karena itulah, gereja sedikit memodifikasi perayaan ini. Mereka memasukkan nama-nama santo dalam kotak itu. Selama setahun setiap orang akan meneladani santo yang tertulis pada undian yang diambilnya. Untuk membuat acara itu sedikit lucu, gereja juga memasukkan nama Simeon Stylites. Orang yang mengambil nama ini dianggap apes alias tidak mujur,soalnya Simeon menghabiskan hidupnya di atas pillar, tidak beranjak satu kali pun.
Nama Valentine lalu diabadikan dalam festival tahunan ini. Di festival ini, pasangan kekasih atau suami istri Romawi mengungkapkan perasaan kasih dan cintanya dalam pesan dan surat bertuliskan tangan. Di daratan Eropa tradisi ini berkembang dengan menuliskan kata-kata cinta dan dalam bentuk kartu berhiaskan hati dan dewa Cupid kepada siapapun yang dicintai. Atau memberi perhatian kecil dengan bunga, coklat dan permen.
Di zaman modern, kebiasaan menulis surat dengan tangan diangap tidak praktis. Lagipula, tidak setiap orang bisa merangkaikan kata-kata yang romantis. Lalu muncullah kartu valentine yang dianggap lebih praktis. Kartu Valentine modern pertama dikirim oleh Charles seorang bangsawan Orleans kepada istrinya, tahun 1415. Ketika itu dia mendekam di penjara di Menara London. Kartu ini masih dipameran di British Museum. Di Amerika,Esther Howland adalah orang pertama yang mengirimkan kartu valentine. Kartu valentine secara komersial pertama kali dibuat tahun 1800-an.
Sayangnya dari hari ke hari, perayan Valentine telah kehilangan makna yang sejati. Semangat kasih dn pengorbanan St. Valentine telah dikalahkan oleh nafsu komesialisasi perayaan ini. Untuk itulah kita perlu mengembalikan makna perayaan ini, seperti dalam 1 Yohanes 4:16: "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia"
Sumber>>>>>
http://crosswalk.com/faith/ministry_articles/guestcolumns/509916.html;ht...

Merayakan Hari Valentine

Apakah Perlu Merayakan Valentine Day?



Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div.

Bagaimana menyikapi perayaan hari Valentine (Valentines Day)? Apakah orang Kristen perlu merayakan hari Valentine di gereja atau apakah anak-anak remaja pemuda sebaiknya merayakan hari Valentine atau harus dilarang? Karena berdasarkan sejarah lahirnya hari Valentine tidak berkaitan langsung dengan peristiwa atau pengajaran Alkitab, di sisi lain ada beberapa cerita mengenai sejarah hari Valentine ini.
Namun jika kita melihat fenomena mengenai perayaan dan peringatan hari Valentine di seluruh dunia, termasuk di Indonesia sangatlah mengagumkan. Pada saat menjelang hari Valentine kita melihat bagaimana respon anak-anak muda khususnya sangat bergairah dan bersemangat menyambut hari Valentine ini. Mereka berusaha membeli dan menggunakan pernak-pernik asesoris, bunga, sepatu dan pakaian yang berwarna pink atau merah sebagai simbol yang mengidentikkan hari Valentine. Pada masa-masa seperti ini sangat menguntungkan para penjual bunga, Karena tidak sedikit yang merayakan hari Valentine dengan memberi bunga sebagai ungkapan kasih sayang kepada kekasih atau kepada orang-orang yang mereka kasihi.
Lama kelamaan perayaan hari Valentine terus berkembang di berbagai Negara di dalam budaya kehidupan anak-anak muda. Tidak terlepas dari kehidupan anak-anak Kristen di gereja. Bahkan tidak sedikit gereja yang secara khusus menggunakan konteks perayaan hari Valentine ini sebagai tema dalam ibadah-ibadah gereja di persekutuan (kebaktian ) kaum muda bahkan di dalam acara ibadah umum. Lalau apa signifikansi perayaan hari Valentine ini bagi gereja jikalau hari Valentine ini bukan bagian dari pengajaran Alkitab atau peristiwa sejarah penting dalam kekristenan?

Bisa dikatakan memang tidak ada signifikansi yang sangat kuat untuk merayakan hari Valentine di gereja, namun melihat bahwa ada satu peristiwa indah yang merupakan momentum yang perlu diingat berkaitan dengan penerapan kasih dalam kehidupan melalui seorang yang bernama Valentine yang sangat mengesankan dan telah menjadi sebuah trend budaya yang sangat mendunia. Maka ketika hari Valentine dirayakan dalam konteks ibadah gereja tentu bukan sekedar merayakan kasih manusia semata, namun setiap orang Kristen pasti akan memusatkan kebenaran tentang kasih itu kepada sumber kasih yang terbesar, pemilik kasih dan pemberi kasih bagi seluruh umat manusia yaitu Allah: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)
Allah adalah kasih, itu yang dituliskan dalam Alkitab : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1Yohanes 4:16). Ayat ini juga menegaskan bahwa seseorang hanya dapat memiliki kasih jika ia berada di dalam Allah, di luar kasih Allah hanya ada kasih yang semu. Kasih sejati adalah milik Allah dan diberikan kepada manusia semenjak manusia diciptkan dalam kasih dan rencana terindah bagi hidup manusia. Bahkan rencana keselamatan telah direncanakan oleh Allah dalam kasih-Nya dan dalam kerelaan-Nya dan dalam hikmat-Nya semenjak kekekalan (Efesus 1:3-7).

Jadi merayakan hari Valentine dalam konteks mengingat dan merenungkan kasih Allah yang agung dan luar biasa adalah sesuatu yang sangat baik, konteks hari valentine menjadi momentum untuk menyatakan kebesaran kasih Allah di tengah kehausan dunia akan kasih. Besarnya respon terhadap hari Valentine menunjukkan besarnya keinginan manusia untuk memiliki kasih dan berbagi kasih sehingga hari Valentine disebut sebagai hari kasih sayang. Saat seperti ini juga seharusnya menjadi momentum bagi setiap orang Kristen untuk menyatakan kasih itu bukan hanya kepada orang-orang yang dikasihinya, tetapi juga kepada orang-orang yang bahkan tidak dikenal, malahan Tuhan Yesus mengajarkan agar kasih diterapkan kepada musuh. Yaitu orang yang tidak menyukai kita atau membenci diri kita atau orang-orang yang berbeda pendapat dan berbeda keyakinan atau penilaian dan sebagainya: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.” (Lukas  6:27).
Kasih terbesar dan kasih teragung telah diberikan oleh Kristus kepada umat-Nya dalam peristiwa penebusan (redemption) di kayu salib bagi untuk pengampunan seluruh dosa dan kesalahan yang telah terjadi dalam hidup umat-Nya. Semua itu diberikan sebagai anugerah (Efesus 2:8-9), karena manusia tidak sanggup membebaskan dirinya dari hukuman dosa dan karena manusia tidak sanggup membayar dosa-dosanya dengan apa pun, dan hanya anugerah dalam kasih Allah yang besar yang sanggup menyelamatkan manusia dari dosa itu: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (I Yohanes 4:10). Peristiwa inilah yang harus menjadi pemicu dan alasan terbesar bagi orang Kristen untuk merayakan hari Kasih Sayang. Tidak berhenti hanya pada konsep, berbicara mengenai kasih bukan hanya tentang konsep, tetapi lebih kepada hal praktis dimana kasih itu harus dipraktekkan dalam segala aspek kehidupan sehari-hari (1 Kor 13:4-8). Happy Valentine Day.
  • Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. (I Yohanes  3:1)
  • “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4:7).
  • “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (I Yohanes  4:11).
  • “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (II Yohanes  1:6)
Sumber>>>>>>

http://inspirasijiwa.com/?p=1677

Comments

Pencarian

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates